MASYARAKAT PEDULI PERTANIAN SEHAT
Dasar Pemikiran : Isu tentang
pentingnya dan kesadaran atas kesehatan praktek pertanian mulai dari bahan,
pelaku,proses,hasil,dan konsumen produk pertanian semakin mengemuka. Saat ini
telah banyak para penggagas,peneliti,program dan pelaku usaha tani yang memulai
dan menghasilkan produk sehat yang kita kenal dengan usaha tani organik, produk
rendah residu pestisida, produk tanaman obat/kosmetik dll.
Tentu trand
tersebut sangat positif terhadap perkembangan praktek pertanian karena secara
kualitas produk pertanian akan meningkat, daya saing produk menjadi tinggi dan
usahatani menjadi lebih menarik dan diminati oleh generasi muda dan investor
karena usahatani dapat memberi keuntungan sejajar atau lebih tinggi dengan jenis
usahatani lain.
Masalah : Pelaku usaha tani sehat persentasenya masih
sangat kecil.
Belum banyak konsumen yang berani memberi penghargaan terhadap
produk pertanian sehat (belum berani membayar mahal)
Teknologi pertanian
sehat masih langka dan belum banyak dikuasai oleh petani
Para pelaku
usahatani sehat belum punya jaringan yang kuat dan
luas.
Solusi : Dalam rangka mewadahi dan membangun jejaring para
pelaku pertanian sehat (pertanian organik, SOP-GAP, SRI, PHT) baik yang bergerak
dibidang tanaman pangan dan hortikultura,merasa perlu dibentuk wadah untuk
mempermudah komunikasi dan kerjasama. dengan nama "MASYARAKAT PEDULI PERTANIAN
SEHAT"
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan
1. Kampanye
pertanian sehat melalui media informasi (surat kabar,rado,TV), 2.
Seminar-seminar, 3. Pameran, 4. Workshop, 5. Jambore, 6.
Penyedian/pemasaran sarana produksi dan hasil pertanian sehat (pupuk organik,
agen hayati, pestisida nabati dan produk organi (beras,sayur,buah
dll)
Berita langsung dari lapangan
Minggu, 29 April 2012
Gerakan "SPOT STOP" Pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan
Spot yaitu titik sumber serangan OPT berupa populasi/serangan OPT yang tingkatannya mendekati ambang pengendalian dan apabila tidak dikendalikan akan menyebar luas ke lahan sekitarnya.
Stop yaitu upaya untuk menghentikan atau mengendalikan spot populasi/serangan OPT agar kehilangan hasil yang diakibatkannnya dapat diminimalkan.
hal yang bisa mencegah munculnya Spot adalah (1)Tanam serentak, (2)Penggiliran tanam, (3)Menanam varietas tahan, (4)Penggunaan pupuk berimbang, (5)Penggunaan agens hayati.
Spot yaitu titik sumber serangan OPT berupa populasi/serangan OPT yang tingkatannya mendekati ambang pengendalian dan apabila tidak dikendalikan akan menyebar luas ke lahan sekitarnya.
Stop yaitu upaya untuk menghentikan atau mengendalikan spot populasi/serangan OPT agar kehilangan hasil yang diakibatkannnya dapat diminimalkan.
hal yang bisa mencegah munculnya Spot adalah (1)Tanam serentak, (2)Penggiliran tanam, (3)Menanam varietas tahan, (4)Penggunaan pupuk berimbang, (5)Penggunaan agens hayati.
Bagaimana Aplikasi Trichoderma spp.?
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan konsep yang dianjurkan untuk mengamankan produksi pangan dan hortikultura dari serangan OPT. Konsep PHT didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi dalam rangkaian pengelolaan agroeksistem yang berwawasan lingkungan, pengendalian secara biologi melalui pemanfaatan agens hayati, merupakan salah satu komponen PHT yang perlu terus dikembangakan. Salah satu agens antagonis yang telah banyak dikembangan dan dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tular tanah (soil born) adalah dari golongan cendawan.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan konsep yang dianjurkan untuk mengamankan produksi pangan dan hortikultura dari serangan OPT. Konsep PHT didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efesiensi dalam rangkaian pengelolaan agroeksistem yang berwawasan lingkungan, pengendalian secara biologi melalui pemanfaatan agens hayati, merupakan salah satu komponen PHT yang perlu terus dikembangakan. Salah satu agens antagonis yang telah banyak dikembangan dan dimanfaatkan untuk pengendalian penyakit tular tanah (soil born) adalah dari golongan cendawan.
Trichoderma spp merupakan salah satu agens antagonis golongan cendawan (Moniliales, Moniliaceae), bersifat saprofit baik di tanah maupun di kayu yang sudah lapuk. Koloni cendawan Trichoderma spp pada awal pembiakan berwarna putih dan selanjutnya berwarna hijau tua. Cendawan ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan pesat sehingga mempunyai daya kompetisi ruang yang baik dan efektif dalam menekan pertumbuhan cendawan lainnya. Misalnya T.harzianum dan T.hamatum efektif menekan penyakit hawar pelepah Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii dengan mengeluarkan enzim glukanase dan kitinase, menyebabkan lisis pada sel hifa patogen yang menjadi inangnya. Trichoderma spp telah banyak dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mengendalikan penyakit tular tanah (soil born) pada beberapa komoditi hortikultura misalnya penyakit layu fusarium (Fusarium oxyporum), hawar pelepah (Rhizoctonia solani), Phytophthora spp dan Sclerotium rolfsii. Untuk memperbanyak Trichordema spp dapat menggunakan beberapa media alternatif yang mudah diperoleh dan murah harganya.
Aplikasi : (1)Cendawan Trichoderma spp sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam kantong bibit persemaian, 3 hari sebelum penanaman benih atau bersamaan dengan penanaman benih, (2)Untuk pengendalian Phytophthora spp aplikasi Trichoderma spp dengan dosis 100 gram/liter air (media beras) ditambah dengan perekat, (3)Untuk pengendalian Penyakit Layu Fusarium oxyforum gunakan media yang mengandung pupuk kandang + Trichoderma spp yang disebarkan merata di atas permukaan bedengan, disaat tanah relatif rembab dan sebaiknya diberikan setelah penyiangan pertama(ft)
Rabu, 25 April 2012
Perbanyakan dan Aplikasi Bakteri Antagonis Corynebacterium sp. pada Tanaman Padi
Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB/Kresek/BLB) merupakan salah satu OPT utama padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris. Gejala umum dari penyakit tersebut dibedakan menjadi tiga macam yaitu gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman yang rentan, gejala hawar, dan gejala daun kuning pucat. Dampak dari penyakit tersebut dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi petani baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga diperlukan upaya penanggulangan yang sifatnya ramah lingkungan, mudah, dan relatif ekonomis sehingga dapat dikembangkan sendiri oleh petani.
Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB/Kresek/BLB) merupakan salah satu OPT utama padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris. Gejala umum dari penyakit tersebut dibedakan menjadi tiga macam yaitu gejala layu (kresek) pada tanaman muda atau tanaman yang rentan, gejala hawar, dan gejala daun kuning pucat. Dampak dari penyakit tersebut dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi petani baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga diperlukan upaya penanggulangan yang sifatnya ramah lingkungan, mudah, dan relatif ekonomis sehingga dapat dikembangkan sendiri oleh petani.
(Foto kiri : Petugas Instalasi PPOPT wil Bandung membuat stater bakteri corine untuk dibagikan kekelompok-kelompok tani)
Bakteri Conynebacterium sp. adalah salah satu Agens Hayati yang kini tengah dikembangkan dan disosialisasikan kepada para petugas lingkup pertanian dan masyarakat petani, mengingat dari pemanfaatan cara kerja bakteri ini adalah dapat mengendalikan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB/kresek/BLB) pada tanaman padi.
Bakteri Conynebacterium sp. adalah salah satu Agens Hayati yang kini tengah dikembangkan dan disosialisasikan kepada para petugas lingkup pertanian dan masyarakat petani, mengingat dari pemanfaatan cara kerja bakteri ini adalah dapat mengendalikan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB/kresek/BLB) pada tanaman padi.
Cara Aplikasi: (a)Perlakuan benih perendaman selama kurang lebih 15 menit (b)Pada persemaian: 10-20 HSS (c)Pada pertanamna padi umur 14, 28, dan 42 HST (d)Aplikasi dapat dicampur dengan perekat baik perekat buatan sendiri seperti kanji/aci maupun perekat buatan pabrik kimia (e)Hindari aplikasi pestisida kimia
Dosis Aplikasi: (a)Penggunaan larutan Conybacterium sp. 5-10 cc/liter (b)Untuk pengendalian atau aplikasi di lapangan menggunakan dosis 2,5 liter/ha dengan volume semprot 500-600 liter.
Waktu Aplikasi: (a)Dilakukan pada sore hari, mulai pukul 15.00 (b)Hindari aplikasi pada siang hari untuk mencegah pengaruh sinar matahari langsung.
Kebutuhan Corynebacterium per Ha tanaman padi (1)Perendaman benih 25 Kg memerlukan air kurang lebih 25 liter air; 25 liter x 5 ml = 125 ml =0,125 liter (2)Persemaian; 1x, 500m/10.000m x 2.500ml = 125 m =0,125 liter (3)Pertanaman; 3 x 2,5 liter = 7,5 liter. Jadi jumlah kebutuhan 8 liter (4)Hasil perbanyakan Corynebacterium sp. dalam satu kali proses perbanyakan 20lt, maka areal tanaman yang dapat dikendalikan seluas 2,5 ha.
Dosis Aplikasi: (a)Penggunaan larutan Conybacterium sp. 5-10 cc/liter (b)Untuk pengendalian atau aplikasi di lapangan menggunakan dosis 2,5 liter/ha dengan volume semprot 500-600 liter.
Waktu Aplikasi: (a)Dilakukan pada sore hari, mulai pukul 15.00 (b)Hindari aplikasi pada siang hari untuk mencegah pengaruh sinar matahari langsung.
Kebutuhan Corynebacterium per Ha tanaman padi (1)Perendaman benih 25 Kg memerlukan air kurang lebih 25 liter air; 25 liter x 5 ml = 125 ml =0,125 liter (2)Persemaian; 1x, 500m/10.000m x 2.500ml = 125 m =0,125 liter (3)Pertanaman; 3 x 2,5 liter = 7,5 liter. Jadi jumlah kebutuhan 8 liter (4)Hasil perbanyakan Corynebacterium sp. dalam satu kali proses perbanyakan 20lt, maka areal tanaman yang dapat dikendalikan seluas 2,5 ha.
Parasitoid Trichogrammatidae mampu menurunkan intensitas serangan P. Batang ???
Pengembangan dan pemanfaatan Parasitoid Telur Trichogrammatidae sebagai upaya pengendalian Penggerek batang Padi
Pengembangan dan pemanfaatan Parasitoid Telur Trichogrammatidae sebagai upaya pengendalian Penggerek batang Padi
Trichogramma jappanicum, merupakan salah satu musuh alami yang memberikan kontribusi cukup tinggi dalam pengendalian hama di lapang, dapat mengendalikan hama sasaran sebelum kerusakan terjadi, ramah lingkungan, dan populasi parasitoid tetap dapat bertahan hidup meskipun dalam jumlah yang rendah serta memiliki daya kelangsungan hidup yang baik
Langkah-langkah dalam pengembangan yaitu A. Ekplorasi diantaranya (1) Eksplorasi Corcyra chephalonica, alat: tabung reaksi, tabung kecil, tabung silinder, nampan, dan kuas. Teknik Eksplorasi yaitu: a. apabila kita menyimpan bahan makanan seperti beras, jagung, dan kacang-kacangan dalam waktu yang lama, maka kita akan menemukan gumpalan-gumpalan kecil yang diduga berisi larva Corcyra sp. b. kumpulkan gumpalan tersebut pada stoples plastik berventilasi kasa. c. Setelah kurang lebih 20-30 hari akan muncul imago, lalu di identifikasi adalah Corcyra sp. maka imago tersebut kita ambil dengan alat, kemudian dimasukan kedalam tabung silinder, satu hari imago telah menghasilkan telur yang diletakan diatas permukaan atas silinder. c. telur dibersihkan dengan kuas dan siap digunakn untuk perbanyakan. (2). Eksplorasi Trichogrammatidae, alat: Tabung reaksi, kain penutup, dan karet gelang, teknik eksplorasi: a. Kumpulkan telur penggerek batang padi yang biasanya diletakan pada ujung daun bagian bawah, kemudian masukan kedalam tabung reaksi dan tutup dengan kain penutup. b. Amati dan apabila ditemukan serangga parasitoid Trichogrammatidae, masukan kedalamnya, pias yang telah berisi telur Corcyra sp, setelah 3-5 hari kemudian, apabila pias yang berisi telur Corcyra sp berubah warna menjadi hitam, pindahkan pias tersebut kedalam tabung reaksi baru, dan dalam hal ini kita telah berhasil mendapatkan strater Trichogrammatidae yang akan kita gunakan untuk perbanyakan.
Senin, 16 April 2012
Pengamatan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di lapangan dilaksanakan dengan menerapkan metode sampling atau penarikan contoh agar secara teknis dapat dilaksanakan oleh petugas dan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, informasi yang diperoleh dapat mewakili keadaan OPT di wilayah pengamatan tersebut, informasi hasil pengamatan selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun strategi pengendalian OPT sesuai konsep PHT, dan bahan rekomondasi tindakan pengendalian.
1. Pengamatan adalah kegiatan dan pengumpulan informasi tentang keadaan populasi atau tingkat serangan OPT dan faktor-faktor yang mempengaruhi pada tempat dan waktu tertentu,(a). Pengamatan tetap adalah pengamatan yang dilakukan secara berkala pada lokasi atau tempat yang tetap dan mewakili bagian terbesar wilayah pengamatan, pengamatan tetap bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi dan intensitas serangan OPT, (b). Pengamatan keliling atau Patroli adalah pengamatan yang dilakukan dengan cara mejelajahi wilayah pengamatan untuk mengetahui luas tanaman terserang dan terancam oleh OPT, intensitas serangan OPT dan tindakan pengendaliannya, serta kejadian bencana alam.
2. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT atau mengalami kerusakan atau gangguan dalam kehindupannya karena serangan OPT.
3. Luas serangan adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar, rumput, atau pohon.
4. Intensitas serangan adalah derajat serangan atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif atau kualitatif.
5. Sumber serangan adalah tanaman terserang atau sisa bagian tanaman terserang dan tanaman inang asal serangan OPT tertentu
6. Eksplosi adalah serangan OPT yang sifatnya mendadak, populasinya berkembang sangat cepat, dan menyebar luas dengan cepat
7. Sisa serangan adalah serangan yang dilaporkan pada periode laporan sebelumnya, yang masih tersisa pada periode laporan, yaitu keadaan serangan sebelumnya (tidak termasuk puso) dikurangi luas tanaman yang dipanen , sembuh kembali, dan dimusnahkan pada periode laporan
8. Luas tambah serangan (LTS) adalah luas serangan baru yang terjadi atau yang ditemukan pada periode laporan.
9. Luas keadaan serangan (LKS) adalah luas sisa serangan ditambah dengan luas tambah serangan pada periode laporan
10. Kumulatif luas tambah serangan (KLTS) adalah penjumlahan luas tambah serangan pada periode laporan
11. Luas pengendalian (LP) adalah luas tanaman pada lahan yang terserang yang diberi perlakuan dengan berbagai cara pengendalian antara lain fisik/mekanik, hayati, dan penggunaan pestisida.(sumber )
2. Tanaman terserang adalah tanaman yang digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak OPT atau mengalami kerusakan atau gangguan dalam kehindupannya karena serangan OPT.
3. Luas serangan adalah luas tanaman terserang yang dinyatakan dalam hektar, rumput, atau pohon.
4. Intensitas serangan adalah derajat serangan atau derajat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh OPT yang dinyatakan secara kuantitatif atau kualitatif.
5. Sumber serangan adalah tanaman terserang atau sisa bagian tanaman terserang dan tanaman inang asal serangan OPT tertentu
6. Eksplosi adalah serangan OPT yang sifatnya mendadak, populasinya berkembang sangat cepat, dan menyebar luas dengan cepat
7. Sisa serangan adalah serangan yang dilaporkan pada periode laporan sebelumnya, yang masih tersisa pada periode laporan, yaitu keadaan serangan sebelumnya (tidak termasuk puso) dikurangi luas tanaman yang dipanen , sembuh kembali, dan dimusnahkan pada periode laporan
8. Luas tambah serangan (LTS) adalah luas serangan baru yang terjadi atau yang ditemukan pada periode laporan.
9. Luas keadaan serangan (LKS) adalah luas sisa serangan ditambah dengan luas tambah serangan pada periode laporan
10. Kumulatif luas tambah serangan (KLTS) adalah penjumlahan luas tambah serangan pada periode laporan
11. Luas pengendalian (LP) adalah luas tanaman pada lahan yang terserang yang diberi perlakuan dengan berbagai cara pengendalian antara lain fisik/mekanik, hayati, dan penggunaan pestisida.(sumber )
Kamis, 12 April 2012
Mengenal Tungau Merah (Tetranycus bimaculatus) pada Ubi kayu
Indonesia adalah penghasil ubi kayu urutan keempat terbesar di dunia setelah Nigeria, Brazil, dan Thailand. Namun, pasar ubi kayu di dunia dikuasai oleh thailand dan Vietnam (Anonim, 2010). Di Indonesia tidak banyak OPT yang merusak ubi kayu yang dapat dinilai secara ekonomis penting, namun, ada beberapa OPT yang bisa merusak tanaman ubi kayu, hama penting bagi Ubi kayu adalah tungau daun merah dan kumbang
Tungau merah (Tetranycus bimaculatus) adalah hama utama ubi kayu, hama ini menyerang hanya pada musim kemarau dan menyebabkan rontoknya daun, tetapi petani hanya mengganggap keadaan tersebut sebagai akibat kekeringan, kehilangan hasil berbeda antara varietas yang toleran dan peka, kehilangan hasil dapat mencapai 73 %, tetapi varietas yang toleran hanya sekitar 15 % (Byre et al. 1982, Saleh et al.2009). Bioekologi Tungau Merah meliputi: 1. Telur; Telur berbentuk bulat, berwarna kekuning-kuningan jernih, produksi telur tiap hari menghasilkan 10 butir, telur menetas dalam waktu 4-7 hari.2. Larva; Larva muda bertungkai 3 pasang, sedangkan larva dewasa tungkainya terdiri dari 4 pasang, tungkai dan mulutnya berwarna putih. 3. Imago; Pada tungau dewasa berbentuk oval , dan berwarna merah, tungau aktif pada siang hari dan menyukai tinggal di permukaan bawah daun yakni terlihat seperti ada tepung putih yang merupakan bekas telur dan kulit tungau.Gejala Serangan; Daun yang terserang terlihat bintik-bintik berwarna kekuning kuningan pada pangkal daun sepanjang tulang daun, bintik-bintik ini kemudian bersatu hingga membentuk warna karat pada daun tanaman yang diserang, apabila serangan yang berat menyebabkan daun menjadi kering dan terjadi kerontokan seluruh daun, pucuk-pucuk yang terserang pertumbuhannya menjadi terhambat, mengalami kekerdilan dan salah bentuk. Pengendalian; (a). Sebaiknya ubi kayu ditanam dilahan pada awal musim hujan untuk mencegah terjadinya serangan tungau dengan tenggang waktu maksimum 2 bulan, varietas ubi kayu unggul yang biasa ditanam antara lain Adira 1,Adira 2, Adira 4, Darul Hidayah, Malang 1, Malang 2, Malang-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5. (b). sanitasi kebun setelah panen, sisa-sisa tanaman dibersihkan kemudian dibakar. (c). Pengolahan tanah secara sempurna. (d). Pergiliran tanaman dengan palawija atau tanaman lainnya. (e). Penggunaan varietas agak tahan (Adira 1, Adira 2, Adira 4, Malang 1,dan Malang-4) dan varietas agak peka yaitu (Darul Hidayah, Malang-6, UJ-3). Cara Biologi; dengan memanfaatkan beberapa pemangsa yang berfungsi untuk mengendalikan tungau merah antara lain dari famili Coccinellidae (Stethorus sp.), Staphylinidae (Oligota minuta), Cecidomyiidae, Thysanoptera, Phytoseidae (Typhlodromus limonicus, T. Rapax) dan Anthocoridae (Orius insidous dan O. minuta), Cara mekanis; dengan cara penyemprotan air beberapa kali agar tungau larut tercuci bersama air.
(Sumber data: http://reginarawe.blogspot.com/2012/02/hama-tungau-merah.html , tulisan keaflet pengenalan dan pengendalian Tungau merah tetranychus bimacukatus H) Direktorat Perlindungan tanaman pangan, kementrian pertanian 2010)
(Sumber data: http://reginarawe.blogspot.com/2012/02/hama-tungau-merah.html , tulisan keaflet pengenalan dan pengendalian Tungau merah tetranychus bimacukatus H) Direktorat Perlindungan tanaman pangan, kementrian pertanian 2010)
Senin, 09 April 2012
REKOMENDASI PENGENDALIAN OPT TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
1. Kewaspadaan Terhadap Hama Penggerek Batang Padi
1. Kewaspadaan Terhadap Hama Penggerek Batang Padi

Perkembangan hama penggerek batang padi kali ini sangat melesat, hal ini dikarenakan hasil penelitian di Istalasi PPOPT Cianjur ditemukan penerbangan imago hama penggerek batang padi (Scirpophaga spp.). Keadaan tersebut diperkirakan akan terjadi serangan hama penggerek batang padi pada pertanamn padi MH II. Melihat keadaan tersebut, maka perlu kewaspadan agar tidak terjadi serangan hama penggerek batang padi, maka untuk mengamankan pertanaman padi MH II perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengantisipasi serangan hama tersebut antara lain: 1. Gerakan pengumpulan kelompok telur hama penggerek batang padi (Scirpophaga spp.) di persemaian, kemudian dipelihara (dimasukan) ke dalam bumbung bambu, bila yang menetas larva akan mati, sedangkan bila yang menetas parasitoid telur maka akan lepas ke lapangan.2. Melakukan eradikasi selektif (pencabutan) tanaman terserang penggerek batang padi. 3. Penggunaan pestisida efektif yang diijinkan bila serangan penggerek batang padi pada fase vegetatif (berupa sundep) mencapai lebih dari atau sama dengan 10%. Insektisida efektif yang dianjurkan diantaranya yang berbahan aktif: Bensustaf, Karbofuran, Amitraz, Fifronil, dan Dimohipo.
Upaya yang Dilakukan dalam Mengendalikan OPT Penggerek Batang Padi : Pengolahan lahan dan tanah untuk persemaian dilakukan bersamaaan agar ulat yang masih terdapat dalam tunggul jerami terbunuh. penundaan waktu sebar benih setelah puncak penerbangan selesai, pengumpulan kelompok telur dan tempatkan pada bumbung parasitoid kalau tidak memungkinkan di bunuh saja. pengaturan air di persemaian setinggi 2-5 cm. penangkapan ngengat dengan lampu yang di pasang secara serempak di atas bak berisi air dan oli bekas (perbandingan 80:1). pemasangan pias Trichogramma sp saat terjadi awal penerbangan ngengat di persemaian sebanyak 5 pias per 500m2. pemasangan pias Trichogramma sp saat ditemukan < 0,3 kelompok telur PBP per m2 pertanaman sebnayak 16 pias per hektar. penggunaan insektisida terdaftar dan diizinkan secara "spot treatment" ( hanya di tempat serangan apabila di temukan kelompok telur > 0,3 kelompok telur per m2 dan atau gejala sundep > 6%.
(Sumber informasi rekomendasi Instalasi PPOPT Cianjur dan Indramayu, dan foto https://encrypted-tbn1.google.com/images).
Pengendalian Penggerek Batang Padi Kuning PBPK (Scirpophaga incertulas, Walker) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi. Jenis tersebut penyebarnnya paling luas di Indonesia, dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil serta dapat mengganggu produksi di daerah serangan. Waspadai adanya ngengat (kupu berwarna kuning jerami dengan tanda titik hitam pada sayapnya) dan kelompok telur sejak dipesemaian. Ulat penggerek makan didalam batang merusak sistem jaringan termasuk merusak titik tumbuh. Gejala serangan pada fase vegetatif disebut "sundep". Pada fase generatif ulat merusak tangkai malai sehingga terpotong menyebabkan malai menjadi hampa, gejala tersebut disebut "Beluk". Bioteknologi PBPK berkembang secara metamorfosis sempurna, dalam siklus hidupnya terdapat stadium telur, larva(ulat), pupa (kepompong) dan imago (ngengat). Untuk mencapai siklus satu generasi dibutuhkan waktu 6-7 minggu. Telur PBPK diletakkan dalam bentuk kelompok telur yang ditutupi oleh rambut haalus berwarna coklat kekuning-kuningan dan terdiri dari 50-150 butir telur. Biasanya diletakan didekat ujung helai daun. Lama stadium telur berkisar antara 100-600 butir telur yang diletakkan pada 3-5 malam. Larva berwarna putih kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan, terdiri dari atas 5-6 instar, panjang maksimum 25 mm. Stadium larva berkisar 28-35 hari. Larva yang baru menetes sebagian besar bergerak menuju ke bagian pucuk tanaman, kemudian menggantung dengan benang halus, terayun, kemudian berpencar. Larva menggreak kedalam batang atau menggerak langsung pada pelepah daun. Larva menggrek dalam bataang, berkembang hingga mencapai stadium pupa. Larva dapat berpindah dari satu tunas ke tunas lainnya. Imago/ngengat jantan berukuran 14 mm dan imago betina berukuran 17 mm. Imago jantan mempunyai bintik berwarna hitam/gelap yang membujur pada sayap depan. Imago betina berwarna kekuning-kuningan dengan sebuah bintik hitam dibagian tengah sayap depan. Imago aktif pada malam hari dan tertarik cahaya. jangkauan terbang dapat mencaapai radius 6- 10 km. Lama hidup imago 5-10 hari. Musuh alami Musuh alami PBPK cukup banyak, sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasi dan serangan PBPK. Musuh alami yang diketahui efektif untuk menekan perkembangan populasi PBPK adalah parasitoid telur, antara lain: Trichogramma spp, Tetrastichus spp, dan Telenomus spp. Musim tanam dan perkembangan PBPK Dalam satu musim tanam ditemukan 3 generasi, masing-masing generasi awal (sejak pesemaian), generasi satu dan generasi dua (perusak). Perkembangan penggerek batang padi dari musim ke musim lebih banyak didukung oleh adanya pertanaman padi secara terus menerus atau singgang dan tanaman padi yang tumbuh dari gabah yang tercecer di lapang pada waktu panen. Pada musim kemarau populasi PBPK pada daerah-daerah tanam awal berpeluang lebih berkembang dibandingkan dengan daerah-daerah tanam akhir. Pengendalian Pengendalian dilaksanakan sesuai konsep PHT dengan prinsip (1) budidaya tanaman sehat, (2) pelestarian/pemanfaatan musih alami, (3) pengamatan intensif/berkala, (4) keandirian petani. Starategi pengendalian dini dengan penerapan komponen pengendalian penggerek batang padi meliputi: Pengaturan pola tanam Tanam serentak/panen serentak, Pergiliran tanaman, Pengelompokan persemaian,Pengaturan waktu tanam dengan mempertimbangkan sumber populasi. 2. Pengendalian mekanik: Penyabitan serendah mungkin pada saat panen, Penggenangan setelah panen, Pengumpulan kelompok telur, Pemerekapan ngengat dengan lampu perangkap yang dibawahnya diberi air+minyak tanah 3. Pengendalian hayati Pemanfaatan/ pelepasan parasitoid hasil pengumpulan kelopok telur pelepasan dalam jumlah besar (inundasi) parasitoid telur Trichogramma spp. hasil perbanyakan di laboratorium dengan media telur Corcyra spp Konservasi musuh alami lainnya. 4. Pengendalian kimiawi Tuntaskan pengendalian penggerek batang di pesemaian Penggunaan insektisida anjuran apabila intensitas serangan >=6%, dan parasitisme kelompok telur<> Hasil pengendalian efektif dan efisien jika dalam penggunaan insektisida memenuhi prinsip 6 tepat (jenis, dosis, konsentrasi, sasaran, waktu, dan cara aplikasi)
(Sumber Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Thn 2008)
2. Tikus (Rattus-rattus argentiventer)
:
Apabila di temukan lubang aktif dan tanda tanda keberadaan populasi
tikus pada lahan bera / sebelum tanam dan saat persemaian di lakukan
pengendalian secara gropyokan, sanitasi lingkungan, pengumpanan beracun
dan pengemposan/pengasapan. pengaturan air di persemaian 2-5cm. sanitasi
semak-semak tempat persembunyian tikus. pemagaran plastik yang di
kombinasikan dengan bubu perangkap tikus pada pertanaman muda.
Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengendalikan OPT Tikus adalah :
(1)Penangkapan tikus pada saat pra tanam melalui gropyokan dan pengemposan sedini mungkin; (2)Penerapan teknologi Trap Barier System(TBS); (3)Penangkapan melalui pemasangan perangkap bambu sebagai tempat persembunyian atau dengan menggunakan jaring; (4)penggunaan rodentisida antikoagulan hingga menjelang fase generatif; (5)Pengendalian harus dilakukan secara terus menerus serentak meliputi areal yang luas dan tepat cara (dengan 5 kunci sukses).
2. Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengendalikan OPT Penggerek Batang adalah : (1) Pemanfaatan parasitoid Trichogramma japonicum, dengan ketentuan, (a) Pada Persemaian setara 1 Ha sebanyak 4 pias, (b) Dipertanaman sebanyak 12 pias/Ha, dengan 8 kali pemasangan; (2) Pengumpulan kelompok telur sekaligus melepas parasitoidnya; (3) penggunaan insektisida efektif yang dianjurkan pada spot-spot serangan bila ditemukan gejala sundep > 5 % atau kelompok telur 3 ekor per m2, pada fase vegetatif dan beluk > 10 %, pada fase generatif atau kelompok telur 3 ekor per m23.
3.
(Sumber informasi rekomendasi Instalasi PPOPT Cianjur dan Indramayu, dan foto http://bekasiterkini.com/files/contentx/3170-detail.jpg).
3. Mengenal serangan Wereng Batang Coklat pada tanaman Padi
Berdasarkan
laporan hasil pengamatan lapangan di beberapa Kabupaten di Jawa Barat
serangan WBC disebabkan oleh (1). Tersedianya varietas rentan di
lapangan (2). Penggunaan pestisida yang tidak sesuai anjuran (3). Cuaca
yang mendukung terhadap perkembangannya. Berdasarkan Informasi BMG bahwa
perkiraan hujan Bulan Januari 2012 di beberapa kabupaten di Jawa Barat
masih tinggi kisaran 229 mm-449 mm. Mengingat cuaca sangat mendukung
terhadap perkembangannnya, maka perlu diwaspadai meningkatkan
peningkatan populasi,intensitas serangan dan luar serangan , oleh karena
itu agar saudara secepatnya amengambil langkah langkah pengamanan
sebagai berikut : (a).pengamatan lebih intensif oleh petani atau petugas
nya. (b).pengeringan lahan secara berkala , yaitu 1 hari di airi, dan
3-4 hari di keringkan untuk merubah iklim mikro sekitar tanaman padi.
(c). pemanfaatan agens hayati Metarhizium sp. atau Beauveria sp.atau
pestisida nabati sesuai potensi daerah apabila populasi masih
rendah.(d).menghindarkan penanaman varietas rentan seperti ,
Cisadane,Cilamaya muncul , dan Lokal.(e).agar melaksanakan gerakan
pengendalian.(e).penggunaan insektisida yang di izinkan. dan efektif
bila populasi telah mencapai 10ek/rp pada umur tanaman kurang dari
40hst,dan 20 ek/rp pada tanaman lebih dari 40hst.(f).hindari penggunaan
pestisida bukan anjuran
Pengendalian Wereng Coklat, merupakan serangga hama tanaman padi yang penting
sejak awal tahun 1970-an. Serangga dewasa berwarna coklat, berukuran 4-5
mm. Semua stadia wereng coklat dari nimfa sampai imago menghisap cairan
jaringan tanaman. Namun yang sangat ganas adalah nimfa instar 1-3.
Gejala kerusakan, pangkal batang berwarna kuning dan pangkal batang
berwarna kehitaman. Bila parah, tanaman mengering seperti terbakar
(hopperburm)
Gagal panen (puso) dapat terjadi bila jumlah serangga lebih dari 20
ekor/rumpun. Oleh karena itu, upaya pengendalian perlu segera dilakukan
jika wereng coklat telah mencapai ampang ekonomi (4 ekor/rumpun pada
fase vegetatif dan 7 ekor/rumpun pada fase generatif). Peningkatan
populasi wereng coklat didorong oleh : (1) penanaman varietas padi
rentan, (2) penanaman padi tidak serempak, (3) penggunaan insektisida
tidak tepat (jenis, dosis, waktu, dan cara), dan (4) pemupukan tidak
sesuai kebutuhan tanaman. Selain sebagai hama, wereng coklat juga
berpereran sebagai penular penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa.
Setiap ekor wereng coklat berpotensi menularkan penyakit virus kerdil
rumput dan kerdil tanaman sakit ketanaman sehat.
Cara Pengendalian
Teknik budidaya
Tanaman varietas tahan seperti Inpar-1 sampai 10, terutama Inpari 2, 3,
dan 6.
Pelihara pesemaian dan tanaman muda agar tidak terserang wereng coklat.
Tanam padi secara serempak dalam suatu wilayah.
Gunakan pupuk sesuai kebutuhan tanaman.
Pada saat terjadi serangan, keringkan petakan sawah 3-4 hari untuk
memudahkan teknis pengendalian.
Kimiawi
Bila populasi wereng coklat sudah mencapai ambang ekonomi, semprotkan
insektisida dengan bahan aktif yang sesuai seperti bupofresin, fipronil,
amidaklorid, kabofuran, atau teametoksan.
Hayati
Agen hayati dan musuh alami perlu dikembangkan karena dapat mengurangi
potensi bahaya wereng coklat dengan biaya lebih murah.
Beauveria bassiana 6,2x1010 cfu/ml.
Ekstra nimba (Azadirachta indica).
Kerdil Rumput
Wereng Coklat juaga berperan sebagai penular penyakit kerdil rumput dan
kerdil hampa, yang dapat menimbulkan kerugian besar pada tanaman padi.
Tanaman padi yang sakit akibat tertular virus kerdil rumput dapat sama
sekali tidak menghasilkan gabah. Tanaman yang sakit kerdil rumput
umumnya mempunyai banyak anakan, tumbuhan kerdil, dan tegak seperti
rumput. Daun-daun memendek dan sempit, berwarna hijau kekuningan dan
penuh dengan bercak coklat seperti karat. Akhir-akhir ini ditemukan
gejala penyakit kerdil rumput tipe-2 berupa tanaman agak kerdil, daun
kaku berwarna kuning jingga, dan anakan sedikit.
Kerdil Hampa
Tanaman padi yang sakit kerdil hampa menjadi kerdil, daun melintir, tepi
daun bergerigi, terdapat garis-garis berwarna putih pada pelepah,
anakan bercabang, dan warna daun menjadi hijau tua. Pada suatu hamparan,
pertanaman yang tertular berat oleh kerdil hampa tampak tidak tumbuh
rata karena tinggi tanaman tidak seragam. Mulai yang terbentuk dari
tanaman sakit tidak keluar sempurna, sehingga gabah yang dihasilkan
hampa.
Cara Pengendalian
Penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa dikendalikan dengan cara memutus
hubungan antara wereng coklat dengan virus kerdil hampa dan virus
kerdil rumput dan tanaman padi.
Eradikasi tanamanpadi atau ratun yang tertular virus, dan tidak menanam
padi untuk beberpa saat (1-2 bulan) adalah cara-cara paling penting
untuk mengendalikan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput.
Sampai saat ini belum ada varietas padi tahan kedua penyakit tersebut.
(Sumber Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan, Thn 2008)(sumber file bptph yoki)
Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengendalikan OPT WBC adalah :
(1) Pengamatan yang intensif untuk mengetahui perkembangan populasi WBC; (2)Pemanfaatan bio pestisida yang sudah dikembangkan oleh kelompok tani; (3) Mengatur jarak tanam dan pengairan untuk menghindari kelembaban yang tinggi disekitar tajuk tanaman; (4) Pengendalian dengan Insektisida efektif dilakukan apabila ditemukan populasi > 10 e/rpn pada umur tanaman <> 40 e/rpn pada tanaman berumur > 40 hst dengan memperhatikan 5 tepat.
(sumber
tulisan surat instalasi PPOPT wilayah V Bandung, perihal pengendalian
WBC No. 521.21/74/perek tanggal 20 Januari 2012 sumber gambar
alammendah.wardpres.com)
4. Penyakit Hawar Daun Bakteri (Kresek) dan Blast
Mengamati
kondisi lapangan saat ini terjadi peningkatan serangan penyakit Blast
dan Hawar Daun Bakteri (HDB)/Kresek di beberapa daerah yang
diperkirakan mengancam capaian sasaran produksi padi 2012. untuk itu
dilakukan ;
(1) Penyakit Blas
(Pyricularia oryzae) Pengendaliannya dapat dilakukan (a) membakar
jerami dari pertamanan padi yang terinfeksi Blas untuk mengurangi sumber
infeksi (b) tidak menggunakan benih endemis penyakit blas, karena
patogen penyakit blas dapat ditularkan melalui benih (Seed born) (c)
melakukan penggiliran varietas secara terus menerus, varietas yang tahan
blas yang ditanam secara luas dan terus menerus hanya mampu bertahan
selama beberapa musim terhadap serangan penyakit blas (d) untuk daerah
endemis hindari pemberian pupuk Nitrogen secara berlebihan karena dapat
meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit blas (e) apabila
perkembangan penyakit blas dinilai menghawatirkan dapat dikakukan
pengendalian dengan menggunakan fungisida yang efektif dan selektif.
(2) Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)/Kresek (Xantomonas
campestris pv.oryzae) pengendaliannya yaitu (a) sanitasi patogen dengan
membersihkan tunggul-tunggul dan jerami yang terinfeksi (b) menanam
varietas tahan (c) gunakan benih/bibit yang bebas dari penyakit HDB
dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat (d) apabila menggunakan
kompos jerami pastikan jerami sudah terdekomposisi sempurna sebelum
tanam (e) menggunakan pupuk Nitrogen yang sesuai anjuran.
Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengendalikan OPT Hawar Daun Bakteri /,Kresek (BLB) adalah :
(1) Pemupukan yang lengkap dan berimbang; (2) Pengaturan jarak tanam untuk menghindari kelembaban tinggi dan penyebaran penyakit; (3) Melaksanakan teknologi pengairan hemat air; (4) Pada daerah kronis sebaiknya untuk tanam berikutnya menggunakan varietas tahan seperti Way Apoburu, Widas; (5) Penggunaan agens hayati seperti oryne bacterium.
Hawar daun bakteri adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan pertanaman padi mengalami puso. Pengendaliannya dianjurkan melalui pergiliran varietas atau menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan.
Penyakit HDB disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman padi mulai dari pembibitan sampai panen. Ada dua macam gejala HDB. Gejala yang muncul pada saat tanaman berumur kurang dari 30 hari setelah tanam, yaitu pada persemaian atau tanaman yang baru dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan sampai pemasakan disebut hawar (blight). Kerusakan secara kuantitaif akibat penyakit ini adalah turunnya hasil panen dan rendahnya bobot 1.000 biji, sedangkan kerusakan secara kualitatif ditunjukan oleh tidak sempurnanya pengisian gabah mudah pecah pada saat digiling. Kerusakan sedang berkisar antara 10-20%, sementara kerusakan berat mencapai lebih dari 50%. Penurunan hasil padi akibat HDb umumnyya berkisar antara 15-23%.
Perkembangan HDB
sel bakteri Xoo tumbuh dan berkembang biak sangat cepat. Pada awal pertumbuhannya, baik pada daun padi varietas tahan maupun rentan, dalam waktu 2-4 hari sel 104 menjadi 107 sel/ml. Selanjutnya, perkembangan Xoo pada daun varietas tahan lebih lambat dibandingkan pada daun varietas rentan. Hal ini merupakan dampak dari ketahanan varietas terhadap perkembangan penyakit dilapangan. Proses pembentukan penyakit ditentukan oleh tiga komponen yang selalu berinteraksi, yaiti patogen, inang, dan lingkungan biotik dan abiotik. Masing-masing komponen dapat berubah sifatnya sehingga bila satu komponen berubah maka akan mempengaruhi tingkat keparahan penyakit. Contoh komponen inang yang dapat mempengaruhi tingkat penularan penyakit HDB adalah tanaman terlalu muda atau tua, tanaman sangat atau kurang tahan terhadap HDb, dan tanaman yang memperlihatkan keseragaman genetik dalam suatu areal yang luas. Bakteri Xoo mampu membentuk strain baru dengan cepat dilapangan sejalan dengan perkembangan penggunaan varietas padi. Perbedaan virulensi antara Xoo yang dikumpulkan dari beberapa daerah menunjukan kedinamisan interaksi antara inang dan patogen, yang dapat dibedakan menjadi varietas diferensial dipihak inang dan kelompok strain dipihak patogen.
Pergiliran Varietas
Varietas ciherang Ciherang yang dilepas pada tahun 2000 telah berkembang luas disentra produksi padi di Jawa dan menggeser dominasi IR64 yang dilepas pada tahun 1986. Keadaan dilapangan menunjukan bahwa ketahanan varietas terhadap HDb selalu berubah setelah enam musim tanam. Varietas Ciherang yang pada saat dilepas pada tahun 2000 dinyatakan HDB, misalnya,menurun ketahanannya setelah dikembangkan secara luas. Bahkan Ciherang sudah rentan terhadap penyakit ini sejak MT 2006/2007. Cara yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit ini adalah melalui pergiliran varietas atau menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan.
(sumber surat
ditlin jakarta)
5. Pengendalian Bacterial Red Stripe
Bacterial Red Stripe (BRS)
merupakan penyakit relatif baru yang menyerang pada pertanaman padi, yang pertama kali dideteksi pada tanggal 1 Juli 1987 di Desa Ranca Bango, Kec. Pabuaran Kab. Subang, Jawa Barat (Mogi et al, 1987). Penyakit ini disebut juga "hawar daun jingga" (Suparyono et al,1999). Penyakit ini dapat menyerang semua varietas padi meskipun IR-46 diketahui paling pek dilapangan. BRS sangat berpotensi menjadi penyakit penting pada tanaman padi, karena cepat menyebar dan mengakibatkan kehilangan hasil yang dapat mencapai 16-72 % dengan rata-rata 46 % (Mogi et al, 1988).
Sebagai penyakit padi baru pengenalan gejala penyakit adalah hal yang sangat penting. Gejala awal hanya terbentuk pada daun, kadang-kadang pada bagian atas pelepah. Gejala berbentuk bulat kecil atau bercak elips berwarna merah kekuning-kuningan atau merah kecoklat-coklatan. Bercak yang berukuran kecil, bekembang secara bertahap. setelah diameter mencapai 3-5 mm, bercak garis berkembang dengan cepat kebagian atas daun dengan warna dan luas bercak sama dengan bercak awal. Pada stadia keluar mulai bercak berkembang pada bagian daun yang lebih atas dan daun bendera. Kadang-kadang gejala muncul pada pelepah daun, sedangkan malai maupun biji tidak terlihat adanya gejala. Organisme penyebab penyakit tersebut adalah Pseudomonas sp.
BRS telah meluas penyebarannya di Indonesia, telah ditemukan terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Kalimantan Selatan. di Vietnam selatan dan Utara (Bui van ICH, 1990, komunikasi pribadi).
Keadaan ini menunjukan bahwa penyakit BRS perlu diperhitungkan sebagai penyakit padi yang dapat menyebabkan kehilangan hasil padi dan kerugian. usaha-usaha pengendalian yang efektif untuk menekan kerugian akibat serangan BRS. Faktor yang mendukung/menghambat perkembangan BRS, meliputi semua faktor yang terkait dengan perkembangan patogen, faktor lingkungan dan toleransi varietas, serta pengaruh perlakuan petani dalam budidaya tanaman. Untuk itu semua faktor yang terkait perlu dipelajari dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil pengendalian yang optimal.
Pengaruh iklim terhadap perkembangan BRS
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan BRs antara lain : a) Suhu tinggi diatas 30 o C akan memacu perkembangan penyakit ini, b) Kelembaban yang tinggi pada kanopi daun dapat mempercepat penyebaran BRS, c) Curah hujan yang berat dapat menghambat perkembangan penyakit, d) Pupuk nitrogen yang berlebihan dan penggunaan pupuk yang tidak berimbang, dan e) Kontaminasi patogen yang tinggi pada benih.
secara umum pada musim kemarau BRS lebih cepat muncul dibandingkan pada musim hujan. Pada musim kemarau gejala awal BRS sudah mulai muncul pada umur 7 MST (49 HST) dan berkembang dengan cepat ke rupmpun lain sampai umur 10 MSt (70 HST). Sehingga hanya dalam waktu 3 minggu gejala BRS telah merata, sedangkan pada umur ini tanaman sedang memasuki masa pengisian bulir. Pada musim hujan gejala awal BRS baru muncul pada 13 MST (91HST), pada waktu ini pengisian bulir telah selesai dan tinggal pemasakan saja.
Infeksi BRS yang lebih awal, dan terutama saat tanaman sedang memasuki masa pengisian bulir akan mempengaruhi kehilangan hasil.
Pengaruh pemupukan
Pemupukan mutlak diperlukan untuk bercocok tanam padi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi apabila aplikasi berlebihan, tanaman menjadi lebih rentan terhadap perkembangan patogen penyakit.
Beberapa jenis pupuk yang digunakan secara tunggal maupun secara gabbungan, menunjukan perbedaan perkembangan BRS. Perkembangan gejala BRS dengan berbagai perlakuan pemupukan, yaitu nitrogen (Urea), Phosphat (TSP) dan Potasium Pemberian Nitrogen (Urea) yang berlebihan ternyata menunjukan perkembangan penyakit yang paling cepat dibandingkan dengan perlakuan pemupukan yang lai.
Jenis Varietas Padi
Sampai saat ini nampaknya belum ada varietas padi yang tahan terhadap BRS. Khususnya yang ditanam pada musim kemarau, tetapi agak toleran pada musim penghujan, sedangkan jenis padi hibrida menunjukan reaksi yang rentan baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
USAHA PENGENDALIAN
BRS merupakan penyakit yang relatf baru pada tanaman padi, yang berpotensi mengakibatkan kerugian. Usaha pengendalian perlu dilkukan agar kehilangan hasil dan kerugian petani dapat ditekan. Pengetahuan tentang organisme penyebab penyakit, pengenalan gejala serangan, gejala awal, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit, dan teknologi pengendaliannya perlu diketahui.
Beberapa cara pengendalian yang dianjurkan adalah :
Persiapan : melakukan pemilihan benih yang sehat
Menggunakan benih unggul bermutu, bersertifikat, tidak menggunakan benih yang berasal dari sawah yang terserang BRS.
Seleksi benih dengan menggunakan larutan garam
2. Masa pertumbuhan jarak tanam : menerapkan budidaya tanaman sehat, dan teknologi lainnya sesuai dengan kondisi setempat.
Pengaturan jarak tanam legowo 2:1, agar kelembaban pada kanopi daun relatif,
Penggunaan pupuk KCl untuk meningkatkan kekekaran tanaman sehingga dapat mengurangi intensitas serangan BRS,
Penggunaan/pemanfaatan agens hayati bakteri antagonis antara lain Pseudomonas fluorescens, dan Corynebacterium,
Didaerah endemis, menggunakan pestisida efektif sesuai anjuran (terdaftar dan diijinkan),
Pengelolaan pengairan (secara intermitten) untuk mengurangi kelembaban, perakaran baik.
3. Masa panen;menentukan pemilihan benih sehat, yaitu dari daerah yang tidak terserang penyakit.
(Sumber Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Thn 2008)
6. Tungro: Pengaturan waktu tanam seawal
mungkin agar pada saat populasi wereng hijau ( vektor virus) tinggi,
tanaman sudah mencapai umur 60 hari. sebar benih paling tidak 5 hari
setelah pengolahan tanah sehingga wereng hijau yang masih hidup sudah
tidak membawa virus. tanam serempak untuk daerah endemis tungro. apabila
diperoleh indeks penyakit tungro (populasi wereng hijau dikalikan
prosentase gejala) labih dari 75% menandakan persemaian akan menjadi
sumber penyakit tungro, kendalikan dengan cendawan patogen atau
insektisida efektif. bibit yang menunjukan gejala serangan dieradikasi
selektif dengan cara di benamkan ke dalam tanah. apabila di temukan
gejala tungro > 2 rumpun pada suatu petakan, lakukan pengendalian
dengan insektisida efektif yang diizinkan pada petakan tersebut.
(Sumber Instalasi PPOPT Jawa Barat )
(Sumber Instalasi PPOPT Jawa Barat )
7. Hama Putih: a.
Pengamatan secara berkala, b. Melakukan sanitasi lingkungan dan
pengatura drainase dengan pengeringan lahan selama beberapa hari (3 s/d 4
hari), c. Penggunaan Insektisida efektif diijinkan, bila intensitas
kerusakan telah mencapai sama atau lebih dari 25%. Insektisida efektif
yang dianjurkan diantaranya yang berbahan aktif: BPMC, Bensultaf, MIPC,
Karbofuran dan tebufenosida.
8. Walangsangit: a.
Pengamatan mingguan secara berkala, b. Melakukan sanitasi lingkungan,
c. Melakukan pengendalian dengan umpan terasi, bangkai atau pemasangan
lampu perangkap (lampu patromak atau listrik) untuk menangkap hama
walangsangit yang dikombinasikan dengan perbandingan 40:1, d. Penggunaan
insektisida efektif yang diijinkan bila populasi walangsangit lebih
dari 5 ekor per m2 pada saat premordia sampai dengan berbunga, atau 10
ekor per m2 pada saat bulir padi matang susu, insektisida efektif yang
dianjurkan antara lain berbahan aktif, Bensultaf, BPMC, MIPC.
Senin, 02 April 2012
Pengamanan MT 2011/2012 dari Gangguan OPT Utama
Pengamanan produksi padi MT 2011/2012 dari gangguan serangan OPT dilakukan yakni
(1) Dalam upaya mengantisipasi pemunculan serangan dan merencanakan gerakan pengendaliam OPT utama dilaksanakan Pertemuan Kordinasi Gerakan Pengendalian OPT Utama, khususnya di wilayah yang kronis
(2) Mendorong pelasanaan SPOT STOP untuk menekan sumber serangan OPT dengan pemanfaatan agens hayati yang tersedia di LPHP dan pestisida bantuan yang telah dialokasikan ke Provinsi masing-masing, Pelaksanaan SPOT STOP didahului dengan pengamatan dini untuk mengalokasikan sumber-sumber serangan OPT.
(3) Apabila berdasarkan analisis POPT kemungkinan berkembangnya spot OPT di suatu hamparan dinilai akan membahayakan, dan petani dalam batas waktu dua hari tidak mau dan tidak mampu melaksanakan pengendalian SPOT di lahan sawahnya, dan seringkali terjadi keterlambatan tindakan lanjut rekomondasi/gerakan pengendalian oleh petani/kelompok tani maka Brigade Proteksi Tanaman (BPT) diturunkan untuk mengendalikan SPOT di hamparan tersebut.
(4) Memperhatikan stadia pertumbuhan pada pertanaman padi MT 2011/2012 ini, maka teknis pengendalian OPT yang dapat dilakukan pada gerakan pengendalian tersebut adalah: a. Pratanam; apabila ditemukan lubang aktif sebagai tanda-tanda adanya aktifitas tikus agar dilakukan pengendalian responsif dilakukan dengan pemasangan umpan beracun nabati (gadung), rodentisida antikogulan dan pengemposan dengan bahan pengasapan. b. Persemaian dan Tanaman Muda; apabila ditemukan WBC < 1 ekor per tunas dilakukan pengendalian dengan agens hayati (Matarhizium, Beauveria bassiana, Lecanicilium sp. dan Serrratia sp.). Selanjutnya dilakukan pengamatan intensif, apabila ditemukan populasi WBC > ekor per tunas lakukan pengendalian dengan insektisida terdaftar dan diizinkan, dan apabila ditemukan kelompok telur penggerek batang padi < 0,3 kelompok telurper meter persegi dilakukan pengendalian dengan pemasangan 16 pias Tricogramma sp. per hektar setiap aplikasi, selanjutnya dilakukan pengamatan intensif apabila ditemukan kelompok telur > 0,3 kelompok telur per meter persegi dan atau gejala sundep > 10% dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida terdaftar dan diizinkan secara "spot treatment" (hanya ditempat serangan) (Sumber; Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 2012)
(1) Dalam upaya mengantisipasi pemunculan serangan dan merencanakan gerakan pengendaliam OPT utama dilaksanakan Pertemuan Kordinasi Gerakan Pengendalian OPT Utama, khususnya di wilayah yang kronis
(2) Mendorong pelasanaan SPOT STOP untuk menekan sumber serangan OPT dengan pemanfaatan agens hayati yang tersedia di LPHP dan pestisida bantuan yang telah dialokasikan ke Provinsi masing-masing, Pelaksanaan SPOT STOP didahului dengan pengamatan dini untuk mengalokasikan sumber-sumber serangan OPT.
(3) Apabila berdasarkan analisis POPT kemungkinan berkembangnya spot OPT di suatu hamparan dinilai akan membahayakan, dan petani dalam batas waktu dua hari tidak mau dan tidak mampu melaksanakan pengendalian SPOT di lahan sawahnya, dan seringkali terjadi keterlambatan tindakan lanjut rekomondasi/gerakan pengendalian oleh petani/kelompok tani maka Brigade Proteksi Tanaman (BPT) diturunkan untuk mengendalikan SPOT di hamparan tersebut.
(4) Memperhatikan stadia pertumbuhan pada pertanaman padi MT 2011/2012 ini, maka teknis pengendalian OPT yang dapat dilakukan pada gerakan pengendalian tersebut adalah: a. Pratanam; apabila ditemukan lubang aktif sebagai tanda-tanda adanya aktifitas tikus agar dilakukan pengendalian responsif dilakukan dengan pemasangan umpan beracun nabati (gadung), rodentisida antikogulan dan pengemposan dengan bahan pengasapan. b. Persemaian dan Tanaman Muda; apabila ditemukan WBC < 1 ekor per tunas dilakukan pengendalian dengan agens hayati (Matarhizium, Beauveria bassiana, Lecanicilium sp. dan Serrratia sp.). Selanjutnya dilakukan pengamatan intensif, apabila ditemukan populasi WBC > ekor per tunas lakukan pengendalian dengan insektisida terdaftar dan diizinkan, dan apabila ditemukan kelompok telur penggerek batang padi < 0,3 kelompok telurper meter persegi dilakukan pengendalian dengan pemasangan 16 pias Tricogramma sp. per hektar setiap aplikasi, selanjutnya dilakukan pengamatan intensif apabila ditemukan kelompok telur > 0,3 kelompok telur per meter persegi dan atau gejala sundep > 10% dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida terdaftar dan diizinkan secara "spot treatment" (hanya ditempat serangan) (Sumber; Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 2012)
Minggu, 01 April 2012
Evaluasi Keadaan OPT Bulan Januari 2012 di Instalasi Bandung
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap perkembangan OPT pada tanaman padi maka keadaan serangan maupun persentase luas serangan mengalami peningkatan baik keadaan luas serangan maupun persentase luas serangan terhadap luas pertanaman.hal tersebut perlu dilakukan upaya penghendalian, mengingat iklim yang sangat menunjang terhadap perkembangan OPT. Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika Balai Wilayah II Statsiun Klimatologi Darmaga Bogor perlu disampaikan bahwa perkiraan curah hujan masih tinggi di Kabupaten Bandung kisaran antara 221 mm-331 mm.
Untuk mendukung program SPOT STOP dalam rangka mensukseskan Program Peningkatan Beras Nasional, perlu dilakukan upaya-upaya pengendalian sebagai berikut: (a) Melaksanakan antisipasi peningkatan serangan OPT dengan meningkatkan kewaspadaan dan monitoring perkembangannya (b) Penyediaan sarana pengendalian dengan bahan aktif yang sesuai dengan OPT sasaran (c) Menerapkan pengendalian fisik/mekanis, misalnya pengumpulan kelompok telur untuk pengendalian penggerek batang dan gropyokan untuk pengendalian tikus (d) Penggunaan agens hayati untuk antisipasi penyakit bakteri hawar daun dengan Corynebacterium sp. (e) meningkatkan gerakan pengendalian, terutama di daerah kronis endemis OPT dengan penggunaan pestisida kimia sesuai anjuran(sumber tulisan rekomendasi labpopt bandung)
Untuk mendukung program SPOT STOP dalam rangka mensukseskan Program Peningkatan Beras Nasional, perlu dilakukan upaya-upaya pengendalian sebagai berikut: (a) Melaksanakan antisipasi peningkatan serangan OPT dengan meningkatkan kewaspadaan dan monitoring perkembangannya (b) Penyediaan sarana pengendalian dengan bahan aktif yang sesuai dengan OPT sasaran (c) Menerapkan pengendalian fisik/mekanis, misalnya pengumpulan kelompok telur untuk pengendalian penggerek batang dan gropyokan untuk pengendalian tikus (d) Penggunaan agens hayati untuk antisipasi penyakit bakteri hawar daun dengan Corynebacterium sp. (e) meningkatkan gerakan pengendalian, terutama di daerah kronis endemis OPT dengan penggunaan pestisida kimia sesuai anjuran(sumber tulisan rekomendasi labpopt bandung)
Senin, 26 Maret 2012
27 Maret 2012
DIAGNOSIS UNTUK KLINIK TANAMAN
DIAGNOSIS UNTUK KLINIK TANAMAN
Sistem Pegendalian Hama Terpadu (PHT) dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) telah terjadi kebijakan Pemerintah,Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 1995.tentang Perlindungan Tanaman.Kebijakan pembangunan yang mempertahankan kelestarian lingkungan dan kekhawatiran tentang efek yang tidak diinginkan akibat penggunaan pestisida sintesis, perlu di dukung dengan penerapan sistem PHT, hal ini sesuai dengan UU No.13 tahun 2010 tentang hortikultura, bahwa salah satu sarana hortikultura adalah pengendali OPT ramah lingkungan berbagai klaim terhadap produk ekspor pertanian telah menimbulkan kerugian yang cukup besar akibat tidak memenuhi persyaratan standar keamanan pangan dan kesehatan tanaman (Sanitari and Phytoanitari/SPS), terutama karena adanya cemaran OPT, residu, dan cemaran yang lainnya. oleh sebab itu, pengendalian OPT dilaksanakan dengan ramah lingkungan.Oleh sebab itu, Pengendalian OPT dilaksanakan dengan ramah lingkungan.Pelaksanaan pengendalian OPT menjadi tanggung jawab masyarakat (petani), sedangkan pemerintah membantu bila terjadi eksplosi. Namun, untuk meningkatkan kualitas dan mengamankan produksi dari kegagalan akibat serangan OPT, petani lebih mengutamakan memakai pestisida secara berlebihan tanpa/kurang memperhatikan kesehatan manusia, oleh sebab itu, agar pelaksanaan PHT diterapkan secara optimal, maka diperlukan adanya penguatan kelembagaan melalui kelompok tani dalam bentuk Klinik PHT/Klinik Tanaman. Klinik PHT/Klinik tanaman dibentuk sebagai wadah pusat koordinasi dan konsultasi bagi petani dalam memecahkan permasalahan OPT hortikultura yang dihadapi dilapangan dan juga memberikan saran-saran dalam upaya antisipasi terjadinya serangan OPT. Tujuan pembentukan Klinik PHT/Klinik Tanaman yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dan kelompok tani dalam melakukan identifikasi/diagniosis, dan penanggulangan OPT berdasarkan prinsip PHT, Klinik PHT/klinik Tanaman yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dan kelompok tani dalam melaksanakan identifikasi/diagnosis, dan penanggulangan OPT berdasarkan prinsip PHT.
klinik PHT/Klinik Tanaman dibentuk dalam rangka pengembangan kelembagaan perlindungan tanaman, yang melibatkan kelompok tani untuk mendekati fungsi LPHP kepada petani;(A). Lingkup Kerja; merupakan lokasi kecamatan diharapkan terdapat 1 unit Kinik PHT/Klinik Tanaman (B). Kelembagaan; Pelaksanaan dan pengembangan klinik di daerah dilakukan dibawah bimbingan dan pengawasan LPHP-BPTPH (C). Lingkup Pelayanan; Lingkup pelayanan klinik sebagai pusat informasi/konsultasi dari dan oleh kelompok tani, meliputi antara lain; (1).Melakukan identifikasi dan diagnosis OPT serta inventarisasi permasalahan-permasalahan lapangan dalam proses budidaya tanaman, dan upaya pemecahan masalahnya (2).Melaksanakan pelatihan atau TOT petani (3) Diseminasi teknologi perlindungan tanaman (4). Dukungan pelaksanaan kajian-kajian tingkat petani. (D). Sumberdaya Manusia dan Fasilitasi.
Umumnya identifikasi hama dapat dilihat dari serangan dan ada kalanya masih dapat mudah dilihat kehadirannya.Sedangkan untuk diagnosis penyakit disamping melihat dari gejala serangan juga harus diketahui penyebabnya (cendawan, bakteri, atau virus) dengan menggunakan mikroskop, karena gejala penyakit secara visual seringkali terrlihat mirip/sama. Untuk memperoleh hasil identifikasi/diagnosis yang akurat tergantung dari beberapa hal, antara lain; (1). deteksi awal permasalahan tanaman pengamatan rutin tanaman, (2). Pemeriksa contoh tanamn yang baik (3). perolehan informasi yang akurat.
(A). HAMA
Tanda-tanda serangan hama , secara visual dapat diidentifikasikan sebagai berikut: (a) Embun madu (b) Embun/cendawan jelaga (c) Bintik-bintik putih (d) Benjolan-benjolan (e) daun menggulung atau salah bentuk (f) Jaringan korteks habis (g) Kerusakan jaringan kulit ranting atau cabang (h) Lubang-lubang pada daun dan buah (i) Daun, buah, dan bagian tanaman lain mengering (j) Daun layu
(B). PENYAKIT
Penyakit Biotik (Patogen) a. Gejala penyakit yang disebabkan oleh cendawan seperti layu, antraknosa, bercak, cendawan jelaga (sooty mold), rebah semai(damping-off), embun tepung (powdery mildew) b. Gejala penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti layu (vascular bacterial wilt,) mengeluarkan lendir, hawar (blight), Benjolan (gall), Bercak daun, Scab kurap bakteri c. Gejala penyakit oleh virus seperti Mosaik, Klorosis, Nekrosis, Kerdil dan mati, Menguning, dan salah bentuk (malformasi) d. Gejala yang disebabkan oleh manusia seperti Medoidogyne sp. dan Rodopholus sp.Penyakit Abiotik (non patogen) a. Unsur hara makro b. unsur hara mikro.
Prinsip-prinsip PHT (Pengendalian hama terpadu) a. Budidaya tanaman sehat b.Pengamatan rutin atau pemantauan secara teratur c. Pelestarian dan pemanfaatan musuh alami d. Petani sebagai ahli PHT
Minggu, 25 Maret 2012
PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Mengendalikan Layu dan Menyuburkan Tanaman
PGPR adalah mikroorganisme yang menguntungkan yang hidup disekitar perakaran. Jika di daerah perakaran suatu tanaman kekurangan mikroorganisme yang menguntungkan yang hidup disekitar perakaran. Jika di daerah perakaran suatu tanaman klekurangan mikroorganisme menguntungkan maka akan menyebabkan tanaman menjadi terserang berbagai macam penyakit seperti layu dan busuk akar. Selain itu tanaman juga akan mengalami hambatan dalam pertubuhannya atau kurang subur.
PGPR sangat diperlukan oleh tanaman karena memiliki banyak manfaat. Manfaat yang dapat terlihat secara nyata adalah bahwa PGPR mencegah dan mengendalika penyakit layu dan dapat memacu pertumbuhan tanaman. Yang dilakukan PGPR sehingga mampu mengendalikan penyakit layu dan menyuburkan tanaman:
1. PGPR memproduksi antibiotik untuk melindungi tanaman dengan cara menghambat pertumbuhan penyakit perakaran, 2. PGPR menjadi pesaing patogen penyebab penyakit dalam mendapatkan makanan disekitar perakaran sehingga pertumbuhan patogen merugikan menjadi berkurang, 3. PGPR merangsang pembentukan hormon ZPT Auksin, Sitokinin, dan Giberellin sehingga tanaman terlihat lebih subur, 4. PGPR menghambat produksi etylen (zat yang menmyebabkan tanaman cepat tua dan mati), 5. PGPR meningkatkan penyerapan dan pemanfaatan unsur N oleh tanaman, 6. PGPR meningkatkan kamampuan tanaman dalam menyerap unsur Fe, 7. PGPR meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur S
8. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur P, 9. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur Mn
Adapun cara aplikasi PGPR adalah (1). PGPR untuk perlakuan benih;benih yang dibeli dari toko dan diduga mengandung pestisida, cuci dlcuci dulu sampai bersih hingga 3-4 kali.Rendam benih dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air selama 10 menit hingga 8 jam tergantung jenis benihnya. kemudian kering anginkan di tempat yang teduh sebelum dilakukan penanaman. (2). PGPR untuk perlakuan bibit; Jika untuk perlakuan bibit dan stek atau biakan vegetatif lain tinggal direndam beberapa saat saja lalu langsung ditanam. Konsentrasi yang diperlukan adalah 10 ml per liter air. (3). PGPR untuk perlakuan pada tanaman; Buat PGPR dengan konsentrasi 5 ml per liter air. Untuk aplikasi pada tanaman semusim (cabe, terong, timun dll) siramkan 1-2 gelas aqua larutan tadi ke daerah perakaran. Jika untuk tanaman tahunanjumlah larutan yang digunakan dapat diperkirakan sendiri sesuai dengan umur dan jenis tanaman, sebagai ukuran adalah siram daerah perakaran sampai basah.
Cara Perbanyakan (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) PGPR., 1. Alat : a. Aerator, b. Kumpan/Jerigen, c. Slang, d. KMNO4(PK), e. Aquades, f. Ember, g. Pisau, h. Autoclave/dandang, i. Glas Wool, j. Baskom, k, Lilin mainan
2. Bahan untuk membuat 5 liter PGPR a. Kentang 1000 gram, b. Ceker ayam 375 gram, c. Gula putih 100 gram, d. Garam 15 gram, e. Air steril 5 liter, f. Biakan murni Bacillus subtilis satu tabung reaksi untuk 5 liter larutan, g. Biakan murni Pseudomonas flurescens satu tabung reaksi untuk 5 liter larutan
3. Cara kerja a. Aerator dan peralatan tersebut diatas dirakit menjadi alat untuk mengembangkan PGPR, b. Kentang dikupas dan dipotong-potong berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih 1 cm, c. Setelah 30 menit kentang tersebut disaring untuk diambil air kaldunya, d. Ceker ayam direbus selama 30 menit untuk diambil air kaldunya, e. Kemudian kedua kaldu tersebut dijadikan satu dan sebelum dingin ditambah gula dan garam sesuai ketentuan, f. Setelah dingin larutan tersebut siap untuk di inokulasikan dengan biakan murni Bacillus subtilis atau biakan murni Pseudomonas flurescens, g. Setelah itu siap di inkubasikan dengan alat Aerator selama 6 hari, h. Setelah 6 hari larutan tersebut siap untuk diaplikasikan sebagain pemicu pertumbuhan tanaman pangan, padi, palwija, dan hortikultura
Lama waktu perendaman benih atau bibit dengan PGPR 1. Padi, cabai, terong, dan kangkung waktu perendaman 2-8 jam, 2. Strek tanaman berkayu dan bahan biakan dengan rhizoma (Pisang, aglaonema, dsb) waktu perendaman 2-8 jam, 3. Kacang-kacangan (kacang panjang, kedelai, buncis, kacang tanah, dsb)waktu perendaman 5-15 menit, 4. Timun-timunan (Mentimun, semangka, melon, dsb) waktu perendaman 5 menit. 5. Jagung dan tomat waktu perendaman 15-30 menit, 6. Bayam dan kubis-kubisan (Pak choi, caisin, kubis dan sawi putih) waktu perendaman 5 menit, (Sumber; Instalasi PPOPT Cianjur)
Senin, 19 Maret 2012
Mengenal serangan Wereng Batang Coklat pada tanaman Padi
Berdasarkan laporan hasil pengamatan lapangan di beberapa Kabupaten di Jawa Barat serangan WBC disebabkan oleh (1). Tersedianya varietas rentan di lapangan (2). Penggunaan pestisida yang tidak sesuai anjuran (3). Cuaca yang mendukung terhadap perkembangannya. Berdasarkan Informasi BMG bahwa perkiraan hujan Bulan Januari 2012 di beberapa kabupaten di Jawa Barat masih tinggi kisaran 229 mm-449 mm. Mengingat cuaca sangat mendukung terhadap perkembangannnya, maka perlu diwaspadai meningkatkan peningkatan populasi,intensitas serangan dan luar serangan , oleh karena itu agar saudara secepatnya amengambil langkah langkah pengamanan sebagai berikut : (a).pengamatan lebih intensif oleh petani atau petugas nya. (b).pengeringan lahan secara berkala , yaitu 1 hari di airi, dan 3-4 hari di keringkan untuk merubah iklim mikro sekitar tanaman padi. (c).pemanfaatan agens hayati Metarhizium sp. atau Beauveria sp.atau pestisida nabati sesuai potensi daerah apabila populasi masih rendah.(d).menghindarkan penanaman varietas rentan seperti , Cisadane,Cilamaya muncul , dan Lokal.(e).agar melaksanakan gerakan pengendalian.(e).penggunaan insektisida yang di izinkan. dan efektif bila populasi telah mencapai 10ek/rp pada umur tanaman kurang dari 40hst,dan 20 ek/rp pada tanaman lebih dari 40hst.(f).hindari penggunaan pestisida bukan anjuran (sumber tulisan surat instalasi PPOPT wilayah V Bandung, perihal pengendalian WBC No. 521.21/74/perek tanggal 20 Januari 2012 sumber gambar alammendah.wardpres.com)
Berdasarkan laporan hasil pengamatan lapangan di beberapa Kabupaten di Jawa Barat serangan WBC disebabkan oleh (1). Tersedianya varietas rentan di lapangan (2). Penggunaan pestisida yang tidak sesuai anjuran (3). Cuaca yang mendukung terhadap perkembangannya. Berdasarkan Informasi BMG bahwa perkiraan hujan Bulan Januari 2012 di beberapa kabupaten di Jawa Barat masih tinggi kisaran 229 mm-449 mm. Mengingat cuaca sangat mendukung terhadap perkembangannnya, maka perlu diwaspadai meningkatkan peningkatan populasi,intensitas serangan dan luar serangan , oleh karena itu agar saudara secepatnya amengambil langkah langkah pengamanan sebagai berikut : (a).pengamatan lebih intensif oleh petani atau petugas nya. (b).pengeringan lahan secara berkala , yaitu 1 hari di airi, dan 3-4 hari di keringkan untuk merubah iklim mikro sekitar tanaman padi. (c).pemanfaatan agens hayati Metarhizium sp. atau Beauveria sp.atau pestisida nabati sesuai potensi daerah apabila populasi masih rendah.(d).menghindarkan penanaman varietas rentan seperti , Cisadane,Cilamaya muncul , dan Lokal.(e).agar melaksanakan gerakan pengendalian.(e).penggunaan insektisida yang di izinkan. dan efektif bila populasi telah mencapai 10ek/rp pada umur tanaman kurang dari 40hst,dan 20 ek/rp pada tanaman lebih dari 40hst.(f).hindari penggunaan pestisida bukan anjuran (sumber tulisan surat instalasi PPOPT wilayah V Bandung, perihal pengendalian WBC No. 521.21/74/perek tanggal 20 Januari 2012 sumber gambar alammendah.wardpres.com)
Rabu, 14 Maret 2012
Penyakit Hawar Daun Bakteri (Kresek) dan Blast
Mengamati kondisi lapangan saat ini terjadi peningkatan serangan penyakit Blast dan Hawar Daun Bakteri (HBD)/Kresek di beberapa daerah yang diperkirakan mengancam capaian sasaran produksi padi 2012. untuk itu dilakukan ;
(1) Penyakit Blas (Pyricularia oryzae) Pengendaliannya dapat dilakukan (a) membakar jerami dari pertamanan padi yang terinfeksi Blas untuk mengurangi sumber infeksi (b) tidak menggunakan benih endemis penyakit blas, karena patogen penyakit blas dapat ditularkan melalui benih (Seed born) (c) melakukan penggiliran varietas secara terus menerus, varietas yang tahan blas yang ditanam secara luas dan terus menerus hanya mampu bertahan selama beberapa musim terhadap serangan penyakit blas (d) untuk daerah endemis hindari pemberian pupuk Nitrogen secara berlebihan karena dapat meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit blas (e) apabila perkembangan penyakit blas dinilai menghawatirkan dapat dikakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida yang efektif dan selektif.
(2) Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)/Kresek (Xantomonas campestris pv.oryzae) pengendaliannya yaitu (a) sanitasi patogen dengan membersihkan tunggul-tunggul dan jerami yang terinfeksi (b) menanam varietas tahan (c) gunakan benih/bibit yang bebas dari penyakit HDB dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat (d) apabila menggunakan kompos jerami pastikan jerami sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam (e) menggunakan pupuk Nitrogen yang sesuai anjuran.(sumber surat ditlin jakarta)
Mengamati kondisi lapangan saat ini terjadi peningkatan serangan penyakit Blast dan Hawar Daun Bakteri (HBD)/Kresek di beberapa daerah yang diperkirakan mengancam capaian sasaran produksi padi 2012. untuk itu dilakukan ;
(1) Penyakit Blas (Pyricularia oryzae) Pengendaliannya dapat dilakukan (a) membakar jerami dari pertamanan padi yang terinfeksi Blas untuk mengurangi sumber infeksi (b) tidak menggunakan benih endemis penyakit blas, karena patogen penyakit blas dapat ditularkan melalui benih (Seed born) (c) melakukan penggiliran varietas secara terus menerus, varietas yang tahan blas yang ditanam secara luas dan terus menerus hanya mampu bertahan selama beberapa musim terhadap serangan penyakit blas (d) untuk daerah endemis hindari pemberian pupuk Nitrogen secara berlebihan karena dapat meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit blas (e) apabila perkembangan penyakit blas dinilai menghawatirkan dapat dikakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida yang efektif dan selektif.
(2) Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)/Kresek (Xantomonas campestris pv.oryzae) pengendaliannya yaitu (a) sanitasi patogen dengan membersihkan tunggul-tunggul dan jerami yang terinfeksi (b) menanam varietas tahan (c) gunakan benih/bibit yang bebas dari penyakit HDB dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat (d) apabila menggunakan kompos jerami pastikan jerami sudah terdekomposisi sempurna sebelum tanam (e) menggunakan pupuk Nitrogen yang sesuai anjuran.(sumber surat ditlin jakarta)
Langganan:
Komentar (Atom)





